Rabu, 08 Juni 2016

TAK DPD (Devisit Perawatan Diri)

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Terapi aktivitas kelompok merupakan salah satu bentuk kegiatan terapi psikologik yang dilakukan dalam sebuah aktivitas dan diselenggarakan secara kolektif dalam rangka pencapaian penyesuaian psikologis, perilaku dan pencapaian adaptasi optimal pasien. Dalam kegiatan aktivitas kelompok; tujuan ditetapkan berdasarkan akan kebutuhan dan masalah yang dihadapi oleh sebagian besar peserta dan sedikit banyak dapat diatasi dengan pendekatan terapi aktivitas kolektif.
Pemahaman akan jati diri pada seorang pasien akan sangat menentukan penentuan terhadap citra diri positif pasien. Pengembangan dan eksplorasi mendalam terhadap kekuatan dan kelemahan diri akan sangat penting artinya dalam pencapaian pemahaman obyektif terhadap realitas diri dan sekaligus modal dasar pembangunan citra diri untuk kemudian mengembangkan peran diri. Pemahaman yang benar dan realtistis terhadap kekuatan dan kelemahan diri merupakan salah satu kunci peningkatan konsep diri  positif sebagai salah satu modal dalam pengelolaan gangguan jiwa; khususnya yang dipengaruhi adanya citra diri negatif seperti rasa tidak mampu, kekurangan fisik, kekurangan fisiologis, rasa minder dan sebagainya.
Berdasarkan pemikiran diatas, maka Terapi aktivitas kelompok ini bertujuan untuk mengembangkan citra diri positif melalui eksplorasi kekuatan dan kelemahan diri.
B.     Tujuan
1.      Tujuan umum
Tujuan umum yaitu klien mampu memahami pentingnya kebersihan diri dan perawatan diri serta manfaat perawatan diri.
2.      Tujuan Khusus
a.       Klien mampu melakukan aktivitas mandi/kebersihan diri.
b.      Klien mampu memakai pakaian dan aktivitas berdandan sendiri
c.       Klien mampu menunjukkan aktivitas makan.
d.      Klien mampu melakukan atau menyelesaikan aktivitas toileting sendiri.



BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A.    Konsep Defisit Perawatan Diri
1.      Pengertian
Kurang perawatan diri adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktifitas perawatan diri (mandi, berhias, makan, toileting) (Nurjannah, 2004).
Kurang perawatan diri adalah kondisi dimana seseorang tidak mampu melakukan perawatan kebersihan untuk dirinya (Tarwoto dan Wartonah 2000).
2.      Klasifikasi defisit perawatan diri
a.       Kurang perawatan diri : Mandi / kebersihan
Kurang perawatan diri (mandi) adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktivitas mandi/kebersihan diri.
b.      Kurang perawatan diri : Mengenakan pakaian / berhias.
Kurang perawatan diri (mengenakan pakaian) adalah gangguan kemampuan memakai pakaian dan aktivitas berdandan sendiri.
c.       Kurang perawatan diri : Makan
Kurang perawatan diri (makan) adalah gangguan kemampuan untuk menunjukkan aktivitas makan.
d.      Kurang perawatan diri : Toileting
Kurang perawatan diri (toileting) adalah gangguan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas toileting sendiri. (Nurjannah, 2004)
3.      Etiologi
Menurut Tarwoto dan Wartonah (2000) Penyebab kurang perawatan diri adalah sebagai berikut :
a.       Kelelahan fisik
b.      Penurunan kesadaran



Menurut (Dep Kes, 2000), Penyebab kurang perawatan diri adalah :
a.    Faktor prediposisi
1.      Perkembangan : Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga perkembangan inisiatif terganggu.
2.      Biologis : Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan perawatan diri.
3.      Kemampuan realitas turun : Klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang kurang menyebabkan ketidakpedulian dirinya dan lingkungan termasuk perawatan diri.
4.      Sosial : Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri lingkungannya. Situasi lingkungan mempengaruhi latihan kemampuan dalam perawatan diri.
b.   Faktor presipitasi
Adalah kurang penurunan motivasi, kerusakan kogniti atau perseptual, cemas, lelah/lemah yang dialami individu sehingga menyebabkan individu kurang mampu melakukan perawatan diri. Menurut Depkes (2000: 59) Faktor – faktor yang mempengaruhi personal hygiene adalah:
1.      Body Image : Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan diri misalnya dengan adanya perubahan fisik sehingga individu tidak peduli dengan kebersihan dirinya.
2.      Praktik Sosial : Pada anak – anak selalu dimanja dalam kebersihan diri, maka kemungkinan akan terjadi perubahan pola personal hygiene.
3.      Status Sosial Ekonomi : Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi, sikat gigi, shampo, alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk menyediakannya.
4.      Pengetahuan : Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena pengetahuan yang baik dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya pada pasien penderita diabetes melitus ia harus menjaga kebersihan kakinya.
5.      Budaya : Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak boleh dimandikan.
6.      Kebiasaan seseorang : Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk tertentu dalam perawatan diri seperti penggunaan sabun, sampo dan lain – lain.
7.      Kondisi fisik atau psikis : Pada keadaan tertentu / sakit kemampuan untuk merawat diri berkurang dan perlu bantuan untuk melakukannya.
Dampak yang sering timbul pada masalah personal hygiene.
a.       Dampak fisik : Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak terpeliharanya kebersihan perorangan dengan baik, gangguan fisik yang sering terjadi adalah : Gangguan integritas kulit, gangguan membran mukosa mulut, infeksi pada mata dan telinga dan gangguan fisik pada kuku.
b.      Dampak psikososial : Masalah sosial yang berhubungan dengan personal  hygiene adalah gangguan kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai, kebutuhan harga diri, aktualisasi diri dan gangguan interaksi sosial.
4.      Manifestasi klinis
Menurut Depkes (2000) Tanda dan gejala klien dengan defisit perawatan diri adalah:
a.    Fisik
1)        Badan bau, pakaian kotor.
2)        Rambut dan kulit kotor.
3)        Kuku panjang dan kotor.
4)        Gigi kotor disertai mulut bau.
5)        Penampilan tidak rapi.

b.    Psikologis
1)      Malas, tidak ada inisiatif.
2)      Menarik diri, isolasi diri.
3)      Merasa tak berdaya, rendah diri dan merasa hina.

c.    Sosial
1)      Interaksi kurang.
2)      Kegiatan kurang
3)      Tidak mampu berperilaku sesuai norma.
4)      Cara makan tidak teratur BAK dan BAB di sembarang tempat, gosok gigi  dan mandi tidak mampu mandiri.

5.      Mekanisme Koping
a.       Regresi
Kemunduran akibat stres terhadap perilaku dan merupakan ciri khas dari suatu taraf perkembangan yang lebih dini.
b.      Penyangkalan (Denial)
Menyatakan ketidaksetujuan terhadap realitas dengan mengingkari realitas tersebut. Mekanisme pertahanan ini adalah paling sederhana dan primitif.
c.       Isolasi diri, menarik diri
Sikap mengelompokkan orang / keadaan hanya sebagai semuanya baik atau semuanya buruk, kegagalan untuk memadukan nilai-nilai positif dan negatif di dalam diri sendiri.
d.      Intelektualisasi
Pengguna logika dan alasan yang berlebihan untuk menghindari pengalaman yang mengganggu perasaannya.

6.      Rentang respon Kognitif
Asuhan yang dapat dilakukan keluarga bagi klien yang tidak dapat merawat diri sendiri :
a.       Meningkatkan kesadaran dan kepercayaan diri :
1)      Bina hubungan saling percaya
2)      Bicarakan tentang pentingnya kebersihan
3)      Kuatkan kemampuan klien merawat diri
b.      Membimbing dan menolong klien merawat diri :
1)      Bantu klien merawat diri.
2)      Ajarkan keterampilan secara bertahap.
3)      Buatkan jadwal kegiatan setiap hari.
c.       Ciptakan lingkungan yang mendukung
1)      Sediakan perlengkapan yang diperlukan untuk mandi.
2)      Dekatkan peralatan mandi biar mudah dijangkau oleh klien.
3)      Sediakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi klien.

B.     Konsep terapi Aktivitas Kelompok
Kelompok adalah sekumpulan orang yang saling berhubungan, saling bergantung satu sama lain dan menyepakati suatu tatanan norma tertentu. Individu dalam kelompok saling mempengaruhi dan bertukar informasi melalui komunikasi. Dinamika dalam kelompok bahkan dapat memfasilitasi perubahan perilaku anggota kelompoknya sehingga apabila kelompok ini di desain secara sistematis dapat menjadi sarana perubahan perilaku maladaptif menjadi perilaku adaptif atau dapat difungsikan sebagai terapi. Terapi menggunakan aktifitas dalam kelompok ini disebut sebagai Terapi Aktivitas Kelompok.
Pasien dengan gangguan jiwa mengalami perubahan perilaku yang ditandai dengan perilaku pasien maladptif, tidak umum, aneh, tidak lazim, dan menimbulkan distres serta gangguan dalam pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Terapi menggunsksan aktivitas dalam kelompok ini disebut sebagai Terapi Aktivitas Kelompok. Dengan demikian, terapi aktivitas kelompok sebagai bagian dari terapi kelompok sangat penting diterapkan dalam penanganan pasien gangguan jiwa dimasyarakat.
Terapi Aktivitas Kelompok adalah salah satu jenis terapi pada sekelompok pasien (5-12 orang) yang bersama-sama melakukan aktivitas tertentu untuk mengubah perilaku maladaptif menjadi adaptif. Lama pelaksanan TAK adalah 20-40 menit untuk kelompok yang baru terbentuk. Untuk kelompok yang sudah kohesif, TAK dapat berlangsung selama 60-120 menit ( Budi Ana Keliat, 2007 )
Terapi Aktivitas Kelompok dibagi menjadi 4,yaitu terapi aktivitas kelompok stimulasi kognitif/persepsi,terapi aktivitas kelompok stimulasi sensori, terapi aktivitas stimulasi realita, dan terapi aktivitasi kelompok sosialisasi.



1.      Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Kognitif/Persepsi
Klien dilatih mempersepsikan stimulus yang disediakan atau stimulus yang pernah dialami. Kemampuan persepsi klien dievaluasi dan ditingkatkan dalam pada tiap sesi. Dengan proses ini, diharapkan respon klien terhadap berbagai stimulus dalam kehidupan menjadi adaptif.
Aktivitas berupa stimulus dan persepsi, stimulus yang disediakan: baca artikel/majalah/buku/puisi, menonton acara TV (ini merupakan stimulus yang disediakan), stimlulus dari pengalaman masa lalu yang menghasilkan proses persepsi klien yang maladaptif atau distruktif, misalnya kemarahan, kebencian, putus hubungan, pandangan negatif pada orang lain dan halusinasi. Kemudian dilatih persepsi klien terhadap stimulus.
2.      Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Sensori
Aktivitas digunakan sebagai stimulus pada stimulus sensori klien. Kemudian diobservasi reaksi sensoris klien terhadap stimulus yang disediakan, berupa ekspresi perasaan secara nonverbal (ekspresi wajah dan gerakan tubuh). Biasanya klien yang tidak mau mengungkapkan komunikasi verbal akan terstimulasi emosi dan perasaannya, serta menampilkan respon. Aktivitas yang digunakan sebagai stimlus adalah: musik, seni, menyanyi, menari. Jika hobi klien diketahui sebelumnya dapat dipakai sebagai stimulus, misalnya lagu kesukaan klien, dapat digunakan sebagai stimulus.
3.      Terapi Aktivitas Kelompok Orientasi Realitas
Klien diorientasikan pada kenyataan yang ada disekitar klien, yaitu diri sendiri dan orang lain yang ada disekeliling klien atau orang yang dekat dengan klien dan lingkungan yang pernah mempunyai hubungan dengan klien. demikian pula dengan orientasi waktu saat ini, waktu yang lalu dan rencana kedepan. Aktivitas dapat berupa: orientasi orang, waktu, tempat, benda yang ada disekitar dan semua kondisi nyata.
4.      Terapi aktivitas kelompok sosialisasi
Klien dibantu untuk melakukan sosialisa dengan individu yang ada disekitar klien. sosialisai dapat dilakukan seara bertahap dari interpersonal (satu dan satu), kelompok dan massa. Aktivitas dapat berupa latihan sosialisasi dalam kelompok. (Budiana Keliat, 2005).

C.     Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi
Terapi aktivitas kelompok (TAK): sosialisasi (TAKS) adalah upaya memfasilitasi kemampuan sosialisasi sejumlah klien dengan masalah hubungan sosial.
1.      Tujuan
Tujuan umum TASKS, yaitu klien dapat meningkatkan hubungan sosial dalam kelompok secara bertahap. Sementara, tujuan khususnya adalah:
a.       Klien mampu memperkenalkan diri;
b.      Klien mampu berkenalan dengan anggota kelompok;
c.       Klien mampu bercakap-cakap dengan anggota kelompok;
d.      Klien mampu menyampaikan dan membicarakan topic percakapan;
e.       Klien mampu menyampaikan dan membicarakan masalah pribadi pada orang lain;
f.        Klien mampu bekerjasama dalam permainan sosialisasi kelompok;
g.      Klien mampu menyampaikan pendapat tentang manfaat kegiatan TAK yang telah dilakukan.
2.      Aktivitas Dan Indikasi
Aktivitas TASKS dilakukan tujuh sesi yang melatih kemampuan sosialisasi klien. Klien yang mempunyai indikasi TASKS adalah klien dengan gangguan hubungan social berikut.
a.       Klien menarik diri yang telah melakukan interaksi interpersonal.
b.      Klien kerusakan komunikasi verbal yang telah berespons sesuai dengan stimulus.






BAB III
PELAKSANAAN

BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Terapi aktivitas kelompok merupakan salah satu bentuk kegiatan terapi psikologik yang dilakukan dalam sebuah aktivitas dan diselenggarakan secara kolektif dalam rangka pencapaian penyesuaian psikologis, perilaku dan pencapaian adaptasi optimal pasien. Dalam kegiatan aktivitas kelompok; tujuan ditetapkan berdasarkan akan kebutuhan dan masalah yang dihadapi oleh sebagian besar peserta dan sedikit banyak dapat diatasi dengan pendekatan terapi aktivitas kolektif.
Kurang perawatan diri adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktifitas perawatan diri (mandi, berhias, makan, toileting).Kurang perawatan diri adalah kondisi dimana seseorang tidak mampu melakukan perawatan kebersihan untuk dirinya. Sesi yang digunakan untuk terapi aktivitas kelompok pada defisit perawatan diri yaitu sesi memperkenalkan diri, sesi manfaat pentingnya perawatan diri, sesi tata cara makan dan minum, sesi toileting dan sesi tata cara berhias.




DAFTAR PUSTAKA

DepKes (2000). Standar Pedoman Keperawatan Jiwa. Jakarta: DepKes
Nurhasanah. J. dkk, (2006). Ilmu Komunikasi dalam Konteks Keperawatan. Jakarta: TBK
Tarwoto & Wartonah (2000). Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta: EGC
Keliat, Budi Anna. Dkk, (2007). Manajemen Kasus Gangguan Jiwa. Jakarta: EGC
Keliat, Akemat, (2004). Keperawatan Jiwa Teori Aktivitas Kelompok. Jakarta: EGC